Cerpen Sedih : Dijemput mamaknya by Hamka

Dijemput Mamaknya

Musa yang hidupnya sangat miskin dan menderita memutuskan untuk menikah dengan Ramah. Karena hidup sebakekurangan, kehidupan keluarga mereka tidak bahagia. Kemiskinannya pula yang menyebabkan mamak serta keluarga pihak istrinya menghina Musa. Mereka selalu membicarakan ketidakmampuan Musa dalam mengemudikan rumah tangganya. Lama kelamaan Musa merasa tidak tahan lagi menerima perlakuan mertua dan keluarga iparnya dan ia memutuskan untuk membawa istrinya merantau ke Deli,Pergilah ia bersama istrinya ke Deli. Di tanah perantauan ini, ia menghidupi istrinya dengan menjual kasur. Sekalipun hasilnya tidak kecil, ia dan istrinya dapat menyambung hidup mereka. Semua itu terus berlangsung selama tiga tahun. Ya… tiga tahun. Waktu yang cukup bagi mereka untuk menghadapi suka dan duka bersama.
Suatu hari, ketika Ramah hendak melahirkan, mertuanya mengunjungi keluarga Musa. Mereka ingin melihat kelahiran cucu mereka sekaligus mengasuhnya. Kedatangan mereka semakin menambah beban lelaki itu karena ia juga harus membiayai mertuanya berada mereka di rumahnya. Namun, ia tidak memperlihatkan beratnya beban tersebut kepada keluarga dan metuanya. Setelah anak pertama mereka berumur empat tahun, mertuanya pulang ke kampung halaman mereka. Berkat kerja kerasnya, Musa dapat mengongkosi mertuanya dan memberikan dua buah baju, serta sirih kepada mereka.

Tak berapa lama kemudia, Musa sering medapatkan surat dari mertuanya. Mereka menyuruh keluarga Musa pulang ke kampung haaman. Namun, Musa tidak mempedulikannya karena ia lebih senang hidup di rantau sekalipun hidup dalam kemiskinan daripada hidup berkecukupan di kampung halamannya, tetapi ia harus mendengar hinaan dan cemoohan setiap hari.
Karena kemauannya tidak dituruti, mertua Musa merasa tersinggung. Apalagi tersiar kabar bahwa Musa selalu memperlakukan putri mereka dengan sesuka hati, ia suka menempeleng Ramah bila kemauannya tidak dituruti. Ramah juga disebut sebut memiliki penyakit kudis dan tidak pernah berpakaian karena keadaan kemiskinan rumah tangga mereka. Semua itu menjadi bahan guncingan kaum kerabat keluarga mertua Musa. Itulah sebabnya, mereka kemudian menulis surat kepada Musa bahwa mereka hendak mengambil anak dan cucu mereka.Untuk kesekian kalinya, Musa tidak menanggapi surat dari mertuanya itu. Karena itulah Mamaknya Ramah akhirnya meutuskan untuk menjemput anak dan cucunya. Namun, Ramah menolaknya dengan tegas. Ia berkata bahwa ia tidak dapat meninggalkan suaminya yang sangat dicintainya. Ia berani menempuh risiko apapun untuk menolak permintaan mamaknya. Mamaknya terus menerus memaksanya, sehingga kedua ibu dan anak itu menjadi saling bersitegang.
Melihat kejadian itu, Musa memutuskan untuk mengizinkan istrinya ikut dengan mamaknya, sedangkan ia sendiri akan menyusul apabila mendapat bayaran utang dari pelanggannya. Bukan hanya itu saja, Musa juga membayar semua ongkos perjalanan mereka. Ha itu tentu saja membuat mamaknya Ramah merasa terkejut.Setibanya di kampung halamannya, Ramah merasa tidak kerasan karena berada jauh dari suaminy. Hari harinya dirasakan sangat panjang dan menyiksa dirinya. Dua minggu setelah kepulangannya, ia mengirimkan surat kepada suaminya untuk menceritakan keadaan batinnya yang sangat tersiksa. Pada saat yang sama, mamaknya Ramah juga mengirimkan surat kepada Musa. Dalam suratnya, ia menceritakan bahwa menurut adat istiadat yang berlaku didaerah mereka, tindakan dirinya menjemput anaknya adalah penghinaan. Namun, Musa tidak menanggapi hal itu. Ia beranggapan bahwa hal itu merupakan hak mamaknya Ramah dan kaum kerabat mereka sehingga ia tidak perlu ambil pusing dengan semua itu.
Suatu hari Musa mendengar kabar dari Sahabatnya Samah yang memberitahukan bahwa Ramah telah menghadap penghulu kampung untuk menuntut perceraian. Ia melakukan hal itu karena peksaan kedua orang tuanya. Mendengar kabar tersebut, Musa sama sekali tidak merasa tersinggung, bahkan ia tersenyum sekalipun hatinya terasa sangat sedih. ia Menerimanya dengan pasrah karena ia tidak memiliki uang untuk menjemput istri dan anaknya. Ia menyadari bahwa ketidakberdayaan, kemiskinannya dan kemelaratannya tidak akan mampu memenuhi keinginannya agar keluarganya bersatu kembali.

Berkat kerja kerasnya, Musa dapat mengongkosi mertuanya dan memberikan dua buah baju, serta sirih kepada mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *